 |
|
 |
| | Larasati Semua |
|
|
Larasati Semua
“Mama, kakak yang sakit itu siuman!” teriak Galuh.
Larasati yang sedang menyeduh minuman di dapur bergegas ke kamar.
Wulan duduk di pinggir pembaringan dan menoleh ke kiri ke kanan.
Sepertinya ia bingung mendapati dirinya berada di tempat asing.
“Tenang Wulan, kau ada di rumahku,” kata Larasati lembut.
“Aku sedang makan es krim bersama Galuh dan menemukanmu pingsan di kafe itu.
”
Wulan kaget melihat Larasati berdiri di pintu kamar bersama Galuh.
Ia berdiri, berjalan sempoyongan dan menubruk Larasati.
“Kenapa Ibu begitu baik pada saya? Saya kotor, Ibu… kotor!” suara Wulan tersendat-sendat di antara isak tangis.
“Tenang, Wulan, tenang….
Istirahatlah dulu.
Nanti, kita bisa ngobrol lagi,” kata Larasati, seraya membelai rambut Wulan.
Larasati membimbing Wulan kembali ke pembaringan.
“Galuh, tolong ambilkan minuman buat Kak Wulan, Sayang.
”
Galuh mengambil segelas susu di meja kamar dan memberikannya kepada Wulan.
Melihat kepolosan Galuh, hati Wulan tersentuh.
Bibirnya menyungging senyum.
Elusan tangan mungil Galuh membuat perasaan Wulan menghangat.
“Namanya siapa?” tanya Wulan.
“Galuh.
”
“Nama yang cantik, secantik orangnya.
”
Galuh tersipu-sipu menggelayut di lengan Larasati.
“Oh, ya, Galuh main dengan Mbak, ya! Ibu ingin ngobrol berdua dengan Kak Wulan.
Nanti sore, kita ajak Kak Wulan jalan-jalan.
Oke?”
Galuh mengangguk dan setelah pamit kepada Wulan berlari meninggalkan kamar.
Larasati menutup pintu kamar dan kembali duduk di pembaringan.
“Apa yang terjadi denganmu, Wulan?”
Wulan menunduk.
Air matanya menetes.
“Kalau kau tidak siap bercerita, tidak usah mengatakan apa-apa.
”
“Saya ini pelacur, Bu! Pelacur!” kata Wulan lirih.
Larasati menahan napas untuk mengendalikan keterkejutannya.
“Seorang teman menjerumuskan saya ke lembah hitam itu.
Ibu saya sakit jiwa dua tahun terakhir ini dan saya membutuhkan uang untuk pengobatannya, membayar uang kontrakan, dan biaya hidup.
”
“Bagaimana dengan keluargamu yang lain?” tanya Larasati, hati-hati.
“Saya hanya punya Ibu.
Ibu tak pernah bercerita tentang kerabatnya.
Benar kata semua orang di sekolah, saya memang pelacur.
Bahkan, semalam seorang pria memukuli tubuh saya untuk kepuasannya.
”
Seperti ada sembilu yang mengiris jantung Larasati.
Dipandangnya gadis muda di hadapannya.
Wajahnya lebam.
Duh, Gusti, sekejam inikah hidup?
“Kenapa Ibu tidak jijik kepada saya, seperti orang-orang yang lain di sekolah?” tanya Wulan mengejutkan Larasati.
Larasati menggeleng pelan.
“Tidak, Wulan.
Seorang makhluk tidak berhak menghukum makhluk lain.
Jika kamu izinkan, Ibu ingin membantumu keluar dari lembah hitam ini.
”
Tangis Wulan mengeras.
“Baiklah, sekarang kamu makan dan istirahat saja.
”
“Terima kasih, Bu Laras.
”
Larasati mengangguk, tersenyum.
Berhari-hari Larasati mencari jalan keluar untuk menolong muridnya.
Beberapa kali ia bicara dengan Winata mengenai masalah Wulan.
Mengentas seorang gadis yang terjerumus lembah hitam bukanlah sesuatu yang gampang.
Tetapi, yang membuat Larasati memiliki sedikit harapan adalah Wulan tidak bekerja kepada seorang germo.
Selama ini ia beroperasi sendiri.
Terkenal karena pembicaraan dari mulut ke mulut para pria hidung belang.
“Mama lagi mikir apa, sih?” tanya Galuh malam itu.
Larasati menggeleng, menyeruput teh hangat di depannya.
“Mama mikir Kak Wulan, ya? Kenapa Kak Wulan tidak diajak tinggal di sini saja, Ma? Dia bisa menemani Galuh.
Kayaknya, Kak Wulan baik….
”
Larasati tersentak mendengar ide putrinya.
Beberapa waktu lalu, Larasati memang menceritakan kesulitan Wulan membiayai sekolahnya kepada Galuh.
Ia hanya ingin Galuh belajar bersyukur melihat penderitaan orang lain.
Dan kenapa Larasati tidak mencoba mengajukan ide Galuh ini kepada Wulan? Bukankah rumah ini luas dan hanya dihuni empat orang? Dia, Galuh, seorang pembantu, dan sopir.
Sejak pindah rumah, Larasati memang tidak mempekerjakan banyak pembantu.
“Tetapi, ibu Kak Wulan sakit, Sayang,” kata Larasati, ketika tiba-tiba teringat ibu Wulan.
Kemungkinan yang terjadi jika memindahkan Wulan dan ibunya ke rumah.
“Tidak apa-apa, Mama.
Kita bisa membawanya ke rumah sakit, ‘kan?”
Larasati meraih tubuh putrinya dan memeluknya erat-erat.
“Baiklah, kalau Galuh tidak keberatan Kak Wulan dan ibunya tinggal di sini, nanti Mama akan bicara pada Kak Wulan.
”
“Jangan lama-lama, ya, Ma.
Biar Galuh cepat punya teman.
”
Larasati mengangguk dan memeluk putrinya lebih erat.
Setelah mengutarakan beberapa alasan, akhirnya Wulan menyetujui tawaran Larasati pindah ke rumahnya.
Sebagai pendekatan, siang itu sepulang sekolah Larasati mengajak Winata menjenguk ibu Wulan.
Rumah Wulan ada di gang sempit dan kumuh.
Sebuah rumah petak di antara impitan rumah petak yang lain.
Tak ada kursi tamu di ruang depan.
Hanya bentangan karpet lusuh di ruang tamu yang sempit.
“Maaf, Bu Laras, Pak Win, rumah kontrakan saya kotor dan sempit.
”
“Tidak apa-apa, Wulan, bisa kami bertemu ibumu?”
“Oh, ya, Ibu ada di kamar belakang.
Akhir-akhir ini keadaannya lebih baik.
Mari saya antar.
”
Seorang wanita bertubuh kurus dengan rambut terurai panjang sedang duduk memunggungi pintu.
Tangannya sibuk menyulam.
“Ibu, kita kedatangan tamu.
Guru sekolah Wulan,” kata Wulan, menepuk pundak ibunya.
Wanita di atas pembaringan itu bergerak sedikit.
Lalu, tubuhnya berbalik dan wajahnya terangkat menatap Larasati dan Winata.
Seketika dada Larasati bedebar kencang, ketika pandangannya bertumbukan dengan mata wanita itu.
Seraut wajah bulat telur, alis tebal hitam yang melengkung dan mata yang sendu.
Duh, Gusti, benarkah yang kulihat? Apa mungkin aku salah?
Tubuh Larasati gemetar.
Tangan wanita itu menunjuk ke arah Winata dan Larasati bergantian.
Bibirnya bergetar.
Wajahnya memucat.
“Larasati! Raka!”
Tubuh wanita itu ambruk di pembaringan.
Pingsan.
Hidup adalah jalinan berbagai peristiwa yang terpilin dengan indah.
Bukan kebetulan, jika ia menemukan Prawesti di sebuah rumah petak.
Juga bukan kebetulan, jika ia mengenal Raka sebagai Winata teman sesama guru di sekolahnya.
Ia lupa bahwa nama lengkap pria itu Raka Winata.
Dan Wulan, gadis muda yang terjerumus lembah hitam itu adalah keponakannya sendiri.
Hidup tak ada yang kebetulan.
Semua telah direncanakan Sang Pembuat Hidup.
Larasati memahami itu.
Bahkan, ketika ibunya belum juga mau memaafkannya, itu juga bukan kebetulan.
Semua ada waktunya.
“Aku ingin mewawancarai Anda,” kata Andris, suatu siang.
Larasati menggeleng.
“Kehidupan lamaku sudah berakhir dan aku tidak mau wawancara untuk itu.
”
“Ada yang lebih menarik di sekolah ini ketimbang Anda.
” Andris tertawa kecil.
“Saya ingin informasi lebih tentang gadis-gadis muda yang terjerumus ke lembah hitam.
Siapa tahu jaringan yang menjerumuskan mereka bisa terungkap?”
Dan pertemuannya kembali dengan Andris juga bukan kebetulan.
Pria pertama dalam hidup Larasati yang mengatakan bahwa sesungguhnya wanita itu makhluk kuat jika tidak menganggap dirinya lemah itu, kemudian mengisi ruang-ruang kosong dalam dirinya.
Mengenalkannya pada rasa memiliki.
Dan Larasati merasa menemukan makna hidup yang ia cari.
Tary
|
|
| |
|
|
 |
 |